Kali ini aku mau posting soal cerpenku dulu yang aku buat pas aku kelas 10 SMA... Enjoy it...
COMPLICATED LOVE
Pagi ini kulihat dia memasuki gerbang SMA 17 Magelang dari jendela kelas ku. Pukul 06.35, waktu saat ia tiba di sekolah setiap harinya. Namanya Rama, cowok ganteng temanku sejak SMP. Ia satu-satunya teman ku yang berhasil mencuri perhatian serta hatiku. Aku mencintainya sejak kelas 7 SMP. Saat itu aku satu kelas dengannya. Tapi, aku sering merasa aku bukan apa-apa di matanya. Mungkin baginya aku hanya angin lalu saja.
Bel tanda masuk pun berbunyi. Segera ku keluarkan buku untuk berperang dengan matematika. Namun, otakku tak bisa fokus sepenuhnya. Selalu saja ada hal yang membuatku memikirkannya. Kadang aku sering berfikir. Apakah Ita suka sama Rama. Ita adalah sahabatku sejak SMP. Kebetulan ia satu kelas dengan Rama di X1, sedangkan aku di X6. Pikiran negatife ini hampir setiap hari menghantuiku. Namun, segera ku berfikir positif bahwa Rama bukan tipe cowok idaman Ita.
Pukul 10.00 bel istirahat pun berbunyi. Segera aku menghampiri Ita untuk mengajaknya jajan sekaligus ingin melihat keadaan Rama. Tiba di X1 ku lihat Rama sedang memainkan gitar kesayangannya. Ia sedang memainkan sebuah lagu yang indah dengan melodi gitarnya. Hatiku langsung meleleh melihatnya. Keringatku bercucuran tak henti-henti. Lalu ku panggil Ita agar segera keluar kelas.
Tiba di kantin aku segera membeli 3 gorengan dan 1 aqua gelas. Sedangkan Ita membeli 2 gorengan, 1 wafer, dan 1 aqua gelas. Lalu kami duduk di bangku depan kelas. Kami bercerita banyak hal sampai akhirnya Ita mengatakan hal yang selama ini aku takutkan.
“Din, aku gak nyangka sebelumnya. Cowok ini bisa bikin aku bahagia bila di dekatnya.”
“Siapa to, Ta?”, tanya ku.
“Rama… Itu lho cowok yang sekelas sama aku yang tadi lagi mainan gitar.”
“Oh, ho’o aku tau. Beneran nie kamu suka sama dia?”
Sebelum Ita menjawab, bel masuk pun berbunyi. Segera ia pergi menuju kelasnya begitu juga dengan ku. Sejujurnya aku sakit mendengar pernyataan itu. Rasanya, aku seperti berdiri di atas tebing yang curam dan di sambar 100 petir, kemudian hatiku diiris menjadi 1000 bagian. Kesakitan ini membuatku ingin menangis. Namun, hanya bisa aku pendam dalam hati saja.
Pulang sekolah segera ku tanyai Ita agar semuanya lebih jelas.
“Ta, tadi kamu belum jawab pertanyaanku.”
“Oh iya… Ya beneran lah aku suka. Baru kali lho ada cowok yang bisa bahagiakan aku setiap saat. Terus dia ganteng lagi. Pintar main gitar. Pokoknya OK lah… Din, kok kamu diam?”
“Ehm… aku gak nyangka aja. Ternyata kamu bisa jatuh cinta juga. Hahaha…”
“Oh, dasar Dina! Bercanda melulu… hahaha…”
Sebenarnya aku diam bukan karena hal itu. Aku diam karena aku menahan perih dan tangis dalam hati. Huahhh… Ku hembuskan nafas untuk mengurangi beban di kepala. Sampai di rumah ku keluarkan air mata yang sudah seharusnya di keluarkan.
Pagi harinya seperti biasa ku lihat Rama sedang memasuki gerbang sekolah pukul 06.35. sesaat muncul pikiran negatif. Mungkinkah aku bisa bersama Rama. Ehm… Rasanya tidak mungkin. Namun, kadang aku sering berfantasi, aku dan Rama bisa jadian.
Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Segera ku cari Ita untuk mengajaknya pulang bersama. Saat di X1 Ita sudah tidak ada. Kemudian ada suara yang sangat ku kenal menyapa.
“Cari siapa, Din?. Cari Ita ya?”
Kemudian aku menjawab, “Eh, Rama… Ho’o aku cari Ita. Kok kamu tau sih?”
“Kan kamu sama Ita selalu pulang bareng.”
“Oh iya dink.”
“Ehm… Tadi aku lihat Ita di perpus. Kayaknya sih lagi cari bahan buat presentasi Biologi.”
“Oh gitu. OK. Makasih infonya ya, Ram.”
“Iya sama-sama. Eh, Din…!”
“Ya, kenapa Ram?”
“Arah perpus kan ke sana. Kalau sana kana rah kamar mandi.”
“Ehm, nganu…… Aku mau ke kamar mandi dulu. Terus baru ke perpustakaan. Hehehe…”
“Oh, githu. Hati-hati ya.”
“Iya… hehehe…”
Jantungku berdegub kencang. Keringatku bercucuran.rasanya seperti di siram air dingin dari pegunungan di hari yang begitu panas. Kehadirannya disisiku membawa kesegaran dan keceriaan. Aku senang sekali sampai-sampai aku kehilangan konsentrasi dan salah arah ke kamar mandi.
Di perpustakaanIta masih saja tak ku temukan. Kemudian ku ambil Hp di tas ku dengan niat ingin sms Ita. Namun, ternyata di Hp-ku ada sms yang belum di baca dan itu dari Ita.
Din, hri ini aku gk ikut les fisika dulu ya.
Ada tugas Biologi buat besok nie.
Maaf ya Din, aku tadi langsung pergi.
Gk ngasi kabar ke kamu dulu. Hehehe…
Ku balas sms dari Ita. Setelah itu ku lihat Rama memasuki perpustakaan dan kembali menyapa ku.
“Hei, Din…! Gimana?. Dah ketemu Ita?”
“Belum. Ehm… tadi dia sms katanya sih mau ngerjain tugas Biologi, jadi dia pulang duluan.”
“Oo… kamu kok belum pulang?”
“Aku sih mau les fisika jam setengah tiga. Jadi, masih ada waktu setengah jam sebelum les. Dari pada bengong mending aku baca buku aja. Hehehe…”
“Ow… gimana kalau kamu bantuin aku ngerjain tugas Biologi? Kamu mau gak?”
“Ehm… boleh juga. Mau bayar berapa?”, kataku sambil tersenyum.
“Bayar pake permen aja gimana? Lagi bokek nie.”
“Hahaha… kamu nie ada-ada aja. Aku kan cuma bercanda.”
“Hahaha…”
Hampir setengah jam aku membantu Rama menyelesaikan tugas Biologinya. Semua begitu damai saat Rama ada di dekat ku.
Akhirnya tugas Biologi Rama sudah selesai. Di akhir pertemuan kami, ia memberi ku permen rasa stroberi sebagai imbalannya. Ia berikan permen itu sambil mengucapkan terima kasih lalu tersenyum. Ku jawab ucapan terima kasihnya lalu ku terima permen itu. Kemudaian ku pergi meninggalkannya. Hari itu benar-benar membuatku melayang sampai langit ke-7. Aku ingin teriak tanda senangnya hatiku. Setiap langkah ku lalui dengan senyuman sampai akhirnya ku tiba di tempat les.
Pagi harinya, seperti biasa aku selalu menunggu Rama di depan jendela kelas. Tapi, tak ku lihat tanda kehadirannya. Padahal ini sudah pukul 06.45. sejenak ku berfikir. Mungkinkah Rama sakit. Lalu ku duduk di bangkuku. Ku lihat selembar kertas di laciku. Lalu ku ambil kertas itu dan ku baca.
Din, temui aku di tempat parkir siswa
setelah pulang sekolah.
Rama
Aku kaget membaca surat ini. Surat dari Rama. Aku tak sabar lagi. Ingin waktu dipercepat sampai bel pulang sekolah berbunyi. Rasa penasaran terus menghantui dalam hati.
Pukul 13.30 segera ku berlari menuju tempat parkir siswa. Namun, aku tak melihat Rama. Tiba-tiba muncul seseorang membawa setangkai mawar merah, kesukaanku. Dia terus berjalan mendekat ke arahku. Lalu dia menatapku. Begitu juga dengan ku. Ku tatap matanya yang begitu bersinar.
“Din, aku ingin jujur sama kamu. Seharusnya aku katakana hal ini sejak dulu. Sejak kelas 7 SMP, aku telah tertarik kepadamu.”
Aku benar-benar kaget mendengar kata-kata Rama. Rasa senang, sedih, dan bimbang bercampur jadi satu. Perasaan ini terus meluap sampai tak ku sadari ku teteskan air mata. Sebenarnya aku sangat senang sekali. Namun, jika teringat Ita, aku jadi tidak enak untuk menerima cintanya Rama meski kita saling mencintai.
“Jika menurut mu aku acuh kepadamu, kau salah besar. Sejujurnya aku tak bisa dekat dengan mu karena saat aku dekat denaganmu semua hal tampak begitu indah. Bahkan, saking indahnya, sampai-sampai aku tak tahu mana yang nyata dan mana yang tak nyata. Hanya ada keceriaan saat kau di sisiku. Hari ini ku kumpulkan keberanian ku untuk nyatakan Aku Cinta Padamu…! Dina, maukah kau jadi pacarku?”, ucapnya sambil berlutut di hadapanku dan memberikan mawar merah itu.
Aku benar-benar bingung harus menjawab apa.
“Rama, sejujurnya aku…… sejujurnya aku tak bisa menerima cintamu. Maafkan aku jika aku menyakiti hatimu”, ucapku sambil menangis.
“Boleh aku tahu apa alasanmu menolakku?.”
“Aku……aku memang gak bisa sama kamu, Ram. Maaf, aku harus pergi”, ucapku sambil berlari meninggalkan Rama sendiri.
Lalu aku bertemu Ita di lapangan basket. Ita menatapku dengan wajah sinis.
“Dina…!!! Kamu pembohong…!!!”
“Apa salahku, ta?. Kok kamu jadi gitu sama aku?”
“Tadi aku denger percakapan mu sama Rama di tempat parkir siswa. Tapi kenapa kamu gak jujur sama Rama?. Aku tahu Din, kamu suka kan sama Rama?”
“Kamu tahu dari mana, ta?”
“Maaf, tadi aku baca buku harianmu. Kenapa kamu gak jujur aja sama Rama?. Huuuh… aku gak suka punya teman yang gak jujur”, ucap Ita sambil pergi meninggalkanku.
“Ita…! Aku nglekakuin ini karena aku menghargai kamu sebagai sahabatku. Kamu kan juga mencintai Rama kan?”
“iya, din. Aku memang suka sama Rama. Tapi Rama sukanya sama kamu. Dan aku gak apa-apa kalau kamu sama Rama. Aku malah ikut seneng kalau kamu juga seneng, Din. Lagian kamu udah mencintai Rama sejak kelas 7 SMP.”
“Ita, makasih banget ya. Kamu ngertiin aku banget. Kamu gak marah kan kalau aku sama Rama?”, ucapku sambil berpelukan dengan Ita.
“Ya gak lah. Aku bisa kok cari yang lebih keren dari Rama. Hahaha… Maaf ya din, aku tadi bentak kamu. Aku juga udah buka buku harianmu. Hehehe…”
“Iya, gak apa-apa, Ta”
Aku dan Ita pun pulang bersama sambil tersenyum.
Sampai di rumah aku segera ke kamar mengambil buku harian di tas ku. Gara- gara buku ini Ita jadi tahu apa yang aku rasakan sesungguhnya. Hidup ini memang indah jika kita saling jujur tentang perasaan kita.
Pukul 19.05, bel rumah pun berbunyi. Ku buka pintu rumah dan ku lihat siapa yang datang. Sesorang yang tadi siang ku tolak cintanya kembali dengan serangkaian bunga mawar warna merah. Ia menatapku dalam-dalam.
“Eh… Din… Tadi Ita telepon aku. dia udah cerita semuanya. Ehm…aku juga udah gak sakit hati lagi seperti tadi siang. Sekarang aku mau menyatakan hal yang tadi siang sudah kamu dengar. Din, maukah kamu jadi satu-satunya pemilik hatiku?”
“Ehm…Sebelumnya maaf Ram, atas kejadian tadi siang. Jujur untuk hal ini aku gk bisa… aku gak bisa memendmanya lebih lama lagi bahwa aku juga mencintaimu sejak kita kelas 7 SMP”
Akhirnya aku dan Rama bisa jadi sepasang kekasih. Hal yang semula kuragukan, kini sudah terwujud. Sekarang aku dan Ita pun lebih terbuka. Tak ada hal yang kita sembunyikan. Bahkan, aku, Rama, dan Ita sering pulang bersama. Dan tentunya Rama selalu menyanyikan untuk ku sebuah lagu kesukaan ku dengan melodi gitarnya.